BADANKU BERBAU TANAH

Hari-hari kuhabiskan dengan melinting tembakau yang berkertas lontar dipanasnya terik matahari. Betapa kerasnya hidup dalam menafkai keluarga, bahkan tanahpun tak terasa kubelah demi mencari sesuap nasi. Ini tanggung jawabku untuk memikul beban sebagai kepala keluarga.
Kini aku cukup tua, banyak orang mengenal aku sebagai bapa tua berkulit sawo matang yang tak mengenal siang atau malam menyusuri sawah yang digarapnya. Bila aku dipandang badanku pun sudah mulai berkeriput.
Aku hanyalah seorang petani sawah yang kesana kemari dengan pundak kanan yang berpacul dan tak lupa juga ku gantungkan parang dipundak kiriku sebagai perlengkapan. Ketika aku melewati pinggirin pematang-pematang. Aku mendengar sapaan yang melayang ditelingaku Bapa Mundus. Akupun berharap mereka segera mengenal nama lengkapku Edmundus Hudilaran.

Pada suatu hari dimusim panen padi, mataharipun telah berada di ufuk barat dengan cuaca yang menggelap diawan alias berkabut, anginpun mulai mengamuk dari timur ke barat. Aku tak menyangka akan terjadi hujan yang sangat besar selama berhari-hari. Dan yang tak bisa ku pungkuri adalah terjadinya banjir Motamoruk. “ Aku tak berdaya dan aku tak berdaya!!!” seruan hati yang meronta-ronta. Yang membuat aku tak berdaya bagaimana solusinya dengan tumpukan padi yang siap dirontok. Hal ini menjadi masalah yang serius bagi keberlangsungan kebutuhan hidupku dan keluarga kecilku.
Mataharipun telah menyingsing lagi, banjir pun tak kunjung surut. Jam sudah menunjukkan pukul 09:00, sarapan pagi pun belum kutelan. Ini membuat aku tambah sekarat dipondok kecil. Sekitar beberapa menit telah berlalu hujan pun masih beradu angin yang menghantam pikiranku hingga gelisah dan tak kuat akan dingin, namun aku mendengar riak air kemari menuju pondokku.

“ayah… ayah….!” teriakan Ardo sembari melangkah menuju podok kecilku.
“iya…..nak” jawabku sambil keluar dari pondok dan ku dapati ia basah kuyup.
“ini aku bawa bekal dan pakaian buat ayah,” kata ardo sambil mengigil kedinginan dan melangkah masuk ke pondok.“apa ayah baik-baik?”
“iya, ayah baik-baik, hanya ayah kepikiran, bagaimana dengan tumpukan padi yang terendam banjir ini. Ayah juga menyadari bahwa badan ini telah berbau tanah sehingga maksud hati ingin memeluk gunung apa daya tangan tak sampai. Iya…..!!!ayah berharap agar orang-orang yang berkaca mata teropong agar bisa melihat lebih jauh, seberapa jauh keindahan yang dibangun akibat banjir motamoruk.” Jawabku terasa tarikan napasku memberat.
“mungkin mereka sedang sakit mata plus memakai gula lempeng alias kaca mata besar, yang hanya kabur-kaburan dalam melihat keindahan pasir dan batu yang terbentang di area persawahan.”imbuh Ardo.

Aku dan Ardo, anak bungsuku menatap hujan dan bentangan sawah yang cukup luas diliputi banjir. kehadiran banjir menuai isuk tangis para petani, yang mana ada sebagian petani yang padinya siap dirontok namun terbawa arus banjir. Ada juga sebagian petani yang belum panen dan tertimbun material banjir yang membuat para petani tak bisa garap lagi sawah. Ternyata bukan hanya milikku yang rusak namun kita. Kita yang petani senasib, Ini derita kita. Siapakah yang mau ikut merasakan ini??? Barang siapa berempati tentu peduli, kepedulian tentu menuai buah bibir.
Sejauh mata memandang dan sejauh yang ku ketahui bahwa kali Motamoruk terbentang diwilayah kecamatan Weliman (Malaka), yang mana alirannya melalui wilayah Leunklot dan Umalor yang berhilir di area persawahan Akarlaran termasuk wilayah Naas. Dikala musim hujan tiba Kali motamoruk selalu rajin mengirim material bangunan seakan membangun pantai pasir putih di area persawahan. Ini membuat para penggarap hanya datang sebagai turis dan modeling alias datang melengak-lengok badan dan melihat rerumputan yang beranjak tinggi karena tak bisa berbuat apa-apa.
Namun aku sadar bahwa kok bisa iya..aku jadi turis dan modeling itu, aku bingung dengan semuanya ini. Kok bisa ya,,,mereka yang adalah kita tak bisa melihat hal ini, lalu siapa yang harus melihatnya kalau bukan kita??? Sepertinya kata-kata yang ku ingat adalah swasembada pangan, tetapi siapa yang harus melaksanakannya kalau bukan kita??? Dan kalau bukan sekarang kapan lagi.!!!

Pos blog pertama

Ini adalah pos pertama Anda. Klik tautan Sunting untuk mengubah atau menghapusnya, atau mulai pos baru. Jika ingin, Anda dapat menggunakan pos ini untuk menjelaskan kepada pembaca mengenai alasan Anda memulai blog ini dan rencana Anda dengan blog ini. Jika Anda membutuhkan bantuan, bertanyalah kepada orang-orang yang ramah di forum dukungan.